Kamis, 02 September 2010

DiBawah sang Purnama ( cerpen )

Hitamnya malam nan pekat tak membuatku lari dari kegelapan malam, indah nan penuh ketakjuban sang ilahi, ribuan gemintang menjadi saksi bisu ditiap bulan penuh dengan cahaya, tepat ditengah pertengahan bulan,berdiri  dan terus menanti,desiran ombak datang kemudian pergi tanpa membawa beban memberi kesempatan ombak lain merasakan tetepian pasir dermaga.
                Mlam ini ia tak datang lagi untuk kesekian aku menanti sebuah jawaban janji,indah nan perih kenangan itu terpatri, nantilah daku saat bulan bercahaya penuh,sebait kata yang terus memberi ku harapan lebih untuk ketetapan asa dihati bersama kenangan terberat terus menggendong dipundakku,saat terakhir kukecup keningmu, itulah tanda setia ku sebelum ia pergi,sirene kembali mangaung, satu kapal menepi  namun sampai akhir penumpang tak satupun kukenal, tak ada keberadaan mu disana.
                                “ Pakai mata dong kalo jalan “  bentakku
                                “ Enak aja mas ngomong, harusnya mas yang kalo jaln matanya dibuka dong “
                                “ Busyet nich anak, belum dapat setu semester aja lo udah pinter jawab “
                                “ Nggak usah mentang mentang situ kakak kelas kita dech, apalagi sok belagu kayak gini”
Berdebat tanpa ada satupun mau disalahkan,Naura hanya bisa diam melihat tingkah kami yang tak pernah akur,kami tak mau dilerai, Naura marah, ia lari meninggalkan kami,Vika mengejar Naura dan aku tak ada yang kulakkukan, hanya diam tak bergeming,entah kata kata Naura benar atau salah, jika sebenernya Vika menyukaiku namun itu tak mungkin kami terlalu bertolak belakang,egoisme menjadi alasan utama aku tak bisa menerima Vika,namun benih sesal mulai bersemi dtiap hari hariku,tak ada lagi Naura begitu juga vika.
                Kembali untukmu mengalun merdu mengiringi jejak masaku,sesal kenapa setiap aku bertemu dengannya aku tak pernah bisa mengalah, lembaran tugas berceceran menyesaki kamr tak terawat,mataku hatiku terpaut pada hati yang ku benci,jejak pasir tertutup rapat dibawah pijar lampu belajar,penuh kenangan pencipta harapan.Ponselku mengaung,satu pesan masuk tertulis dilayar ponselku,hatiku semakin ngilu,setelah kian lama aku tak jumpa dengannya,Vika masuk rumah sakit, penyakit kronis kembli menyapanya untuk kesekian kalinya.
                Bangunan serba putih, expresi kesedihan terus mamancar disetiap wajah pembesuk,jeritan, tangisan, raungan tak percaya apa yang telah diucapkan oleh sang dokter,langkahku terhenti tepat didepan ruang UGD, hanya beberapa orang rela menunggu kepastian keadaan anak yang dalam pemeriksaan dokter,Naura hanya bisa tertunduk lesu,berdo’a dan tetap berharap akan kesembuhan sahabatnya,
                                “ Bagaimana keadaan Vika sekarang tante “ tanyaku setelah berada disamping ibu Vika
Tatapan seorang ibu sudah cukup menjawab pertanyaanku,Vika hanya bisa berbaring lema,berjuang bersama para dokter medis keluar dari penyakit,beberapa masa dokterkeluar tanpa ada satu informasi kami dapat hanya kecuali himbauan bersabar dan terus berdo’a.
                Dibawah purnama,aku tak berteman apa,aku marak aku benci dengan diriku saat ini,aku tak bisa member sedikit kebahagian untuk orang yang selama ini mencintaiku,Naura kini ada disampinku,panjang lebar ia bercerita akan perasaan sahabatnya selama ini namun ia tak mungkin dapat milikik,aku kolap semuanya hancur menjadi korban kekolapanku,Naura menangis melihat emosiku memuncak kalau akhirnya kayak begini ia tak mungkinn bercerita akan perasaan sahabatnya terhadapku,berharap dalam pelukan Naura aku bisa mereda namun satu tamparan tepat mendarat dipipi kananku meredakan kekolapanku.
                Seminggu berlalu Vika siuman dua hari lalu,canda tawa sekuat kumampuuntuk mengisi hari hariku bersamnya,mengisi detik detik akhir bersamanya kemudian semuanya kembali hampa,tak kurang dari seminggu Vika akan terbang bersama keluarganya sedangkan Naura haru pulang kampong menggantikan ibunya yang pension.
                Malam ini harapan terakhir menantikan jawaban janjinya,takkan adalagi harapan,cinta dan kasih sayang baru,semunya kembali tertutup rapat bersama harapan kosong dan janji yang takkan ada jawaban,bungkusan balok kecil menghias tanganku, darinya aku membuka harapan darinya pula aku menutup harapan itu,semuanya akan tetap menjadi kenangan masa lalu,kini ia terombang ambing bersama ombak dermaga.
                                “ Cinta seperti halnya kau mencari satu pohon dihutan untuk tempat peristirahatan sementara disaat kau sudah temukan pohon itu,memang ia tak begitu rindang namun ia sangat nyaman untuk peristirahatan namun kau tak pedulikannya,lalu kau kembali mencari pohon lain lebih kedalam hutan, disana kau temukan pohon yang sangat rindang dan nyaman namun hewan buas sudah tertidur pulas dibawahnya , kembali kau mencari pohon lain kedalam huatn namun semunya tak jauh beda dengan pohon yang kau temukan sebelumnya dan akhirnya kau kembali pada pohon pertama namun  sayang sudah banyak orang beristirahat dibawahnya dank au tak mungkin ikut beristirahat dengan mereka “
Kutipan kata mutiara mengalun indah dari suara yang sangat ku kenali,hanya beberapa meter dia berdiri dibelakangku, bersama Naura ia datang menepati janji yang ia canangakn sendiri,senyum kebahagian memancar tanpa keraguan, dalam pelukan kami saling melepas rindu. Namun ……….
                                “ Kemana aja sich tau nggak aku sudah beribu kali menunggu, eh baru sekarang batang idungya mau nongol “
                                “ Emang siapa yang suruh nunggu disini, emang nggak ada tempat lain apa ? “
                 Begini dan terus seperti itu jika kami bertemu namun entahlah hati kecil takkan pernah berbohong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar