Kamis, 02 September 2010

Di Ujung Senja ( cerpen )

Dalam perjalanan rongga pernafasan, langkah derap Meysha langkahkan dengan keyakinan kabur,matanya tetap terkatup tanpa ada satu keyakinan menyerbak,perih sakit hati seorang pejuang pencari cahaya abadi,pakaian tak lebih sebagai penutup jasad penuh dengan bara keinginan , hitam kelam semakin memekat hati dalam jasad Meysha, ia redup tak lagi bercahaya.
                Sendiri bersahabatkan jaringan pemberi hidup,tatapan lurus tak terarah terkesan kosong tanpa ada harapan,setitik air mata membasahi pelupuk redup,berdiri jelentik tangan mungil memenuhi saku celana, tersenyum kecut,luka masih terpatri kuat melekat tepat memenuhi hati keinginan abadi,hati seorang persakitan tertawa kecut menghina kebiadaban tiada henti,kebohongan besar dan dustalah yang ia tau,takkan ada lagi kepercayaan bagi orang lain , entah itu akankah berlaku selamanya. Diary hiatm pekat tak lagi ada diantara jelentik tangan mungil,terbang jauh menghiasi rerimbunan rumput panjang datang sebagai penghuni baru. Merentang menghirup udara kehidupan dalam kebebasan, menanggalkan beban berat untuk sementara.
                Daerah cukup jauh dari keramaian kota , tak begitu terpencil baginya untuk wilayah cukup luas,dahak batuk menghiasi rumah berukuran kecil dengan perabot apa adanya,hatinya pilu entah dengan apa lagi ia dapat meringankan beban sang ibu,paenyakit penggerogot sang ibu yang terhitung renta,Meysha membetulkan duduk ibunya yang mulai tak enak,air putih ia beriakn penuh keta’dziman serta kasih sayang, air matanya berlinang mengikuti arah perasaan hatinya yang memilu,sementara ia tinggalkan ibunya, menjamah dapur ,hatinya semakin perih , tak ada lagi bahan makanan yang tersisa kecuali beras yang ada ditangannya dan kini akan menjadi pemungkas sambungan hidup sang ibu,dengan tangis ia buatkan sang ibu sarapan bubur dan terus berpikir dengan apa ia membautkan ibunya bubur petang nanti.
                Suapan keta’dziaman mengharuskannya untuk selalu bersabar, satu pelajaran yang dijarkan sang ayah padanya , janaganlah kau meminta seseorang apapun lebih lebih untuk dikasihani selama kau masih bisa mendapatkannya sendiri,beliau mengis bahagia,diam diam selntunan do’a terpanjatkan dari hati beliau yang paling mendalam meski keadaan terus menteror tanpa peduli.
                                “ Keanpa ibu menangis ? “
                                “ Tangis ini buakn karena ibu bersedih nak, tapi ibu menangis karena ibu sangat bangga dan bahagia punya anak seberbakti kamu “
                                “Kebaikan ini belum tentu bisa menggantikan kebaikan ibu terhadap Meysha , selama Mey masih bisa berdiri selama itu pula Mey akan melayani ibu “
Merangkulnya penuh kasih sayang , hawa keibuan menyeruak menembus ulu hati Meysha, kebaikan kebaikan yang ia terima belum dapat ia balas , tersenyum bahagia merasa perjuangannya selama ini tak sia sia, beliau merasa berhasil mendidik anaknya.
                Panas aspal dari pantulan matahari mencipta peluh tiada henti,terus menghiasi wajah  imut Meysha,tak ada seraut kecewa memancar dari wajahnya , yang ia harapkan hanya mendapat uang cukup kemudian membawa ibunya periksa kerumah sakit, pelan menapaki jalanan aspal , menjajakan Koran , berharap seseorang mau membeli korannya ,dari satu pegendara ke pengendara lain , hampir semuanya melambaikan tangan tanda tak beli,Mey tak marah ia membalas dengan senyum, hanya satu Koran terjual,lampu kembali hijau terpaksa Mey harus kembali menepi.
                Pendapatan hingga siang ini tak lebih hanya sepuluh ribu rupiah, Mey melenguh merasa tuhan tak adil dengan dirinya, pikirannya melayang memutar memori saat ia masih bisa bersenda dengan sang ibu yang kini tengah berjuang mengalahkan penyakit penggerogot jiwanya,namun ia selalu menepis pembunuh asanya,meski ekonomi terus mencekik tiada henti namun ia tetap bersyukur masih punyai tempat berteduh dan berkesempatan merawat oarng tuanya,padahal masih banyak orang yang kurang beruntung dibawahnya.
                Pepohonan rindang Mey jadikan peristirahatan sementara, korannya masih banyk yang belum terjual , sayup angin sepoi membelainya ke alam mimpi,bersama sang ibu berjalan beriringan ,menggapai satu titik terang dengan keindahan, senyum indah merekah dari kedua bibir , tak ada lagi beban hidup terasa, semuanya seakan lepas melebur bersama alam.
                Sang mentari kembali menjemput malam, hilang dibalik penggunungan diufuk timur,senja yang indah , senja yang bahagia,sekantung harapan kebahagiaan ia tenteng tuk menjemput sang ibu,malam ini ibu pasti sembuh, setiap pasang pasang mata menatap heran, namun Mey tak peduli yang ada dipikirannya kini hanya cepat sampai ruamh dan membawa ibunya kerumah sakit.
                                “ Karna hasil kerjamu yang selalu bagus, inin ada sedikit bonus dari paman, nanti ibu kamu bawa kerumah sakit biar kamu bisa bercanda lagi dengan ibu kamu “
Ucapan sang paman terus terngiang disetiap derap langkah kakinya sebelum ia benar benar keluar dari kios tempat ia menyambung hidup, rasa syukurpun tiada henti terucap membasahi bibir Mey, do’nya kini benar benar terkabul, air mata kebahagian mengiringi langkah menjemput kebahagiaan.
                                “Mak , Mey bawa uang banyak mak , mak nanti bisa kerumah sakit terus mak bisa sembuh “
Tak ada jawaban , beliau hanya menjawab dengan diam, berulang Mey menggerakkan tubuh sang ibu namun matanya tetap terkatup, beliau tak lagi bernafas , beliau tak lagi bersuara.
                                “emaaaaaaaaakkkkk !!!!!!! “ teriak Mey sekuat ia mampu , jiwanya goyah , usahnya tak hasilkan apa apa , semuanya sia sia , takkan ada lagi senda gurau , takkan ada lagi petuah dari sang ibu.Air mata kebahagian kini melebur bersama kepedihan tangis perpisahan, mutiara mata meretas mengiringi setiap jejak senja Meysha.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar